TEORI PEMROSESAN
INFORMASI BERBANTUAN MEDIA
Menurut Gagne bahwa
dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah
sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan
informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan
kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri
individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang
terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari
lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Teori pemrosesan informasi
adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan,
dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175). Teori ini
menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat
dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi
belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak
melalui beberapa indera.
Informasi yang
dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua
dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah
sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik.
Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah
memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru
mengalokasikan waktu untuk pengulangan selama mengajar.
Memori jangka panjang
merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode
panjang. Tulving (1993) dalam (Slavin, 2000: 181) membagi memori jangka panjang
menjadi tiga bagian, yaitu memori episodik, yaitu bagian memori jangka panjang
yang menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman pribadi kita, memori
semantik, yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta
dan pengetahuan umum, dan memori prosedural adalah memori yang menyimpan
informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Dalam upaya menjelaskan
bagaimana suatu informasi (pesan pengajaran) diterima, disandi, disimpan dan
dimunculkan kembali dari ingatan serta dimanfaatkan jika diperlukan, telah
dikembangkan sejumlah teori dan model pemrosesan informasi oleh para pakar
seperti Biehler dan Snowman (1986); Baine (1986); dan Tennyson (1989).
Teori-teori tersebut umumnya berpijak pada tiga asumsi (Lusiana, 1992) yaitu:
a. Bahwa antara stimulus dan respon
terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi dimana pada masing-masing
tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
b. Stimulus yang diproses melalui
tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk ataupun isinya.
c. Salah satu dari tahapan mempunyai
kapasitas yang terbatas.
Dari ketiga asumsi
tersebut,dikembangkan teori tentang komponen struktur dan pengatur alur
pemrosesan informasi (proses control). Kompenen pemrosesan dipilih menjadi tiga
berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses
terjadinya”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah:
1. Sensory receptor
Sensory Receptor (SR)
merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. informasi masuk
ke sistem melalui
sensory register Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya,
informasi hanya dapat bertahan dalam waktu yang sangat singkat, dan informasi
tadi mudah terganggu dengan kata lain sangat mudah berganti. Agar tetap berada dalam sistem, informasi masuk
ke working memory
yang digabungkan dengan informasi
di long-term memory.
2. Working memory
Pengerjaan atau
operasi informasi berlangsung di working
memory. Disini, berlangsung proses berpikir secara sadar. Working Memory (WM)
diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian (attention) oleh
individu. Pemberian perhatian ini dipengaruhi oleh peran persepsi.
Karakteristik WM adalah bahwa; 1) ia memiliki kapasitas yang terbatas, lebih
kurang 7 slots. Informasi di dalamnya hanya mampu bertahan kurang lebih 15
detik apabila tanpa upaya pengulangan atau rehearsal. 2) informasi dapat
disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Asumsi pertama
berkaitan dengan penataan jumlah informasi, sedangkan asumsi kedua berkaitan
dengan peran proses kontrol. Artinya, agar informasi dapat bertahan dalam WM,
maka upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas WM disamping melakukan
rehearsal. Sedangkan penyandian pada tahapan WM, dalam bentuk verbal, visual,
ataupun semantik, dipengaruhi oleh peran proses kontrol dan seseorang dapat
dengan sadar mengendalikannya.
3. Long term memory
Long Term Memory (LTM)
diasumsikan; 1) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu, 2)
mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali informasi disimpan di
dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.
Kelemahannya adalah
betapa sulit mengakses
informasi yang tersimpan di
dalamnya. Persoalan “lupa” pada tahapan ini disebabkan oleh kesulitan atau
kegagalan memunculkan kembali (retrieval failure) informasi yang diperlukan.
Ini berarti, jika informasi ditata dengan baik maka akan memudahkan proses
penelusuran dan pemunculan kembali informasi jika diperlukan. Dikemukakan oleh
Howard (1983) bahwa informasi disimpan di dalam LTM dalam bentuk prototipe,
yaitu suatu struktur representasi pengetahuan yang telah dimiliki yang
berfungsi sebagai kerangka untuk mengkaitkan pengetahuan baru. Dengan ungkapan
lain, Tennyson (1989) mengemukakan bahwa proses penyimpanan informasi merupakan
proses mengasimilasikan pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki,
yang selanjutnya berfungsi sebagai dasar pengetahuan (knowledge base) (Lusiana,
1992).
Dalam mengartikan
penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan
media pengantar, desain pesan, serta
kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk
menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media
berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk
menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu
pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang
diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial. Sebagai
contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat
dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar
komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau
kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam
bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya
istilah desan pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi
dari sebuah pola tanda yang memungkinkan
untuk mengkondisi pemerolehan informasi.
Penelitian telah menemukan bukti bahwa
desain pesan yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas
performansi.
Beberapa teori yang
melandasi perancangan desain pesan
multimedia instruksional ialah teori
pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda.
Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang
terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas
memori kerja visual dan memori kerja
auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki
kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa
penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi
yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam
representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan. Temuan-temuan
penelitian telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding theory):
terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu
pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi
verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki
kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk. Hal terpenting
yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa
kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi
pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.
DAFTAR PUSTAKA
Slavin, R.E. 2000.
Educational Psychology, Theory and Practice. United State of America: Allyn
& Bacon
Lusiana. 1992. Pengaruh
Interaktif antara Penggunaan Strategi Penataan Isi Mata Kuliah dan Gaya Kognitif Mahasiswa terhadap Perolehan
Belajar. Malang: PPS IKIPMalang
Bagaimanakah media yang cocok untuk dapat memenuhi kemampuan terbatas dari memori kerja seseorang siswa?
BalasHapusMedia yang memiliki visual atau auditorial. Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda).
HapusBagaimana cara kita memunculkan kembali informasi yang diperlukan pada Long term memory?
BalasHapusMemori jangka panjang tidak akan terbentuk tanpa adanyapengulangan. Dapatlah disimpulkan sekarang bahwa pengulangan merupakan kata kuncidalam proses pembelajaran. Karenanya, latihan selama di kelas atau di rumah merupakankata kunci yang akan sangat menentukan keberhasilan atau ketidak berhasilan suatupengetahuan yang diingat dalam jangka waktu yang lama.
HapusTambahan
BalasHapusRobert Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengembangkan teori belajar yang mencapai kulminasinya (titik uncak) pada “The Condition of Learning”. Banyak gagasan Gagne tentang teori belajar, seperti belajar konsep dan model pemrosesan informasi, pada bukunya “The Condition of Learning” mengemukakan bahwa: Learning is change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a groeth.
Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very special kind of intellectual skill, of particular in probelem solving, is called a cognitive strategy. In term of modern learning theory, a cognitive strategy is a control process . An internal process by means of which thinking. Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
Sya setuju dengan pendapat anda bahwa fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa.
HapusApakah menurut anda faktor stimulus sangat penting dalam suatu pemrosesan informasi?
BalasHapusYa, penting karena jika adanya stimulus maka akan merangsang dalam pemrosesan informasi agar informasi tersebut dapat muncul kembali.
Hapusapakah multimedia berperan dalam memaksimalkan waktu agar informasi selalu brrada dlm longterm memory?
BalasHapusMenurut saya iya, karena salah satu fungsi multimedia adalah untuk menarik perhatian siswa dalam proses belajar mengajar. Jadi jika siswa telah menarik dan muncul rasa ingin tahu maka proses mengingat dan mengaitkan informasi akan terus terjadi sehingga besar kemungkinan informasi tersebut masuk ke dalam longterm memory
Hapusbagaimana cara mengolah informasi yang kita dapat agar dapat masuk kedalam memori jangka panjang?
BalasHapusApabila informasi itu diperhatikan, maka informasi itu disampaikan ke memori jangka pendek dan sistem penampungan memori kerja. Apabila informasi di dalam kedua penampungan tersebut diulang-ulang atau disandikan, maka dapat dimasukkan ke dalam memori jangka panjang.
Hapuskenapa informasi yang diterima melalui pendengaran itu lebih bertahan lama dibandingkan informasi yang diterima melalui penglihatan?
BalasHapusBagaimanakah proses pembelajaran yang baik agar setiap informasi dapat masuk ke memori jangka panjang?
BalasHapusPertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat.Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran, (Slavin, 2000: 176). Interpretasi seseorang terhadap rangsangan dikatakan sebagai persepsi.
HapusPersepsi dari stimulus tidak langsung seperti penerimaan stimulus, karena persepsi dipengaruhi status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan, motivasi, dan banyak faktor lain.Informasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali.
Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang.
Manfaat teori pemrosesan informasi antara lain:
BalasHapus1.Membantu terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah
2.Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
3.Kapasilitas belajar dapat disajikan secara lengkap
4.Prinsip perbedaan individual terlayani.
Hambatan teori pemrosesan informasi antara lain:
1.Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
2.Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
3.Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan
4.Kemampuan otak tiap individu tidak sama.
Benar pendapat anda Manfaat teori pemrosessan informasi antara lain membantu terjadinya proses pembelajaran sehingga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah, Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menojol, kapabilitas belajar dapat disajikan secara lengkap, dan Prinsip perbedaan individu terlayani.
HapusTeori-teori tersebut umumnya berpijak pada tiga asumsi (Lusiana, 1992) yaitu:
BalasHapusa. Bahwa antara stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi dimana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
b. Stimulus yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk ataupun isinya.
c. Salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.
bagaiamana jika salah satu asumsi tidak dilaksanakn ? akankah berpengaruh ?
media yang seperti apa yang dapat membantu pemprosesan informasi?
BalasHapusDesain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial. Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda).
Hapussedikit menambahkan,Robert. M. Gagne sebagaimana yang dikutip oleh Bambang Warsita, dalam bukunya : The Conditioning of Learning mengemukakan bahwa ; Learning is a change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and wich is not simply ascribable to process of growth. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja Dan Gagne menyatakan bahwa belajar merupakan seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil transformasi rangsangan yang berasal dari peristiwa eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan (kondisi)
BalasHapusGagne membuat rumusan yang berisi urutan untuk menimbulkan peristiwa pembelajaran, yaitu :
a. Pembelajaran yang dilakukan dikondisikan untuk menimbulkan minat peserta didik, dan dikondisikan agar perhatian peserta didik terpusat pada pembelajaran sehingga mereka siap untuk menerima pelajaran.
b. Memulai pelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran agar peserta didik mengetahui apa yang diharapkan setelah menerima pelajaran.
c. Guru harus mengingatkan kembali konsep yang telah dipelajari sebelumnya.
d. Guru siap untuk menyampaikan materi pelajaran.
e. Dalam pembelajaran guru memberikan bimbingan atau pedoman kepada siswa untuk belajar.
f. Guru memberikan motivasi untuk memunculkan respon siswa.
g. Guru memberikan umpan balik atau penguatan atas respon yang diberikan siswa baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
h. Mengevaluasi hasil belajar, dan
i. Memperkuat retensi dan transfer belajar.
Gagne membuat 7 macam pengelompokan media, yaitu :
Benda untuk didemostrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar.
Gagne merumuskan “ The domains of Learning “, yaitu :
Kemampuan belajar manusia yang terbagi kepada lima kategori :
a. Motor/skill : ketramppilan motorik.
b. Informasi verbal : dapat menjelaskan sesuatu dengan berbicara, menulis, menggambar.
c. Kemampuan intelektual, yaitu kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan dunia luar yang berkaitan dengan symbol-simbol.
d. Strategi kognitif : organisasi keterampilan yang internal.
e. Sikap.
Gagne membuat rumusan tahapan dalam tujuan dan tingkatan belajar :
Tahapan tujuan belajar diawali dari yang mudah (rendah), sedang, ke sulit (tinggi), dan tahapan ini berbanding lurus dengan tahapan proses belajar, yaitu dari yang paling sederhana ke yang kompleks. Adapun tingkatan belajar ada empat : belajar fakta, belajar konsep, belajar prinsip, dan pemecahan masalah (Harjanto, 2000 : 159).
Saya setuju dengan pendapat anda Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja.
HapusJika suatu informasi telah menjadi memori jangka panjang, apakah ada kemungkinan informasi itu akan hilang? Mengapa?
BalasHapusManfaat teori pemrosesan informasi antara lain:
BalasHapus1.Membantu terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah
2.Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
3.Kapasilitas belajar dapat disajikan secara lengkap
4.Prinsip perbedaan individual terlayani.
Hambatan teori pemrosesan informasi antara lain:
1.Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
2.Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
3.Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan
4.Kemampuan otak tiap individu tidak sama.
bagaimana cara mamanggil kembali informasi yang telah tersimpan dimemori jangka panjang?
BalasHapus