LANDASAN TEORITIS MULTIMEDIA PEMBELAJARAN
Gagne menyatakan bahwa media adalah
berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk
belajar,sementara itu Briggs berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik
yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar(Arif S. Sadiman,2003:6).
Adapun media pengajaran menurut (Ibrahim
dan Syaodih,2003:112) diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyalurkan pesan atau isi pelajaran, merangsang pikiran, perasaan, perhatian
dan kemampuan siswa, sehingga dapat mendorong proses belajar mengajar.Dari berbagai
definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa media adalah segala benda yang
dapatmenyalurkan pesan atau isi pelajaran sehingga dapat merangsang siswa untuk
belaja
1. Landasan Filosofis
Ada suatu pandangan, bahwa dengan
digunakannya berbagai jenis media hasil dari teknologi baru di dalam kelas,
akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Bisa dikatakan,
penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Tetapi, siswa
harkat kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara
maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan
teknologi tidak berarti dehumanisasi.
Jika guru menganggap siswa sebagai
anak manusia yang memiliki kepribadian, harga diri,motivasi, dan memiliki
kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain, maka baik menggunakan media
hasil teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap
menggunakan pendekatan humanis.
2. Landasan Psikologis
Landasan psikologis penggunaan media
pembelajaran ialah ystem atau rasional mengapa media pembelajaran dipergunakan
ditinjau dari kondisi pembelajar dan bagaimana proses belajar itu terjadi.
Perubahan perilaku itu dapat berupa bertambahnya pengetahuan, diperolehnya
ketrampilan atau kecekatan dan berubahnya sikap seseorang yang telah belajar.
Pengetahuan dan pengalaman itu diperoleh melalui pintu gerbang alat indera
pebelajar karena itu diperlukan rangsangan (menurut teori Behaviorisme) atau
informasi (menurut teori Kognitif), sehingga respons terhadap rangsangan atau
informasi yang telah diproses itulah hasil belajar diperoleh.
Oleh sebab itu, dalam pemilihan
media, di samping memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar,
memahami makna persepsi serta ystem-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasan
persepsi hendaknya diupayakan secara optimal agar proses pembelajaran dapat
berlangsung secara efektif. Untuk maksud tersebut, perlu: (1) diadakan
pemilihan media yang tepat sehingga dapat menarik perhatian siswa serta
memberikan kejelasan obyek yang diamatinya, (2) bahan pembelajaran yang akan
diajarkan disesuaikan dengan pengalaman siswa. Kajian psikologi menyatakan
bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang
abstrak. Berkaitan dengan ystemum konkrit-abstrak dan kaitannya dengan
penggunaan media pembelajaran, ada beberapa pendapat.
Pertama, Jerome Bruner, mengemukakan bahwa dalam proses
pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau
film (iconic representation of experiment) kemudian ke belajar dengan
simbul, yaitu menggunakan kata-kata (symbolic representation). Menurut
Bruner, hal ini juga berlaku tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk orang
dewasa.
Kedua, Charles F. Haban, mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari
media terletak pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia
membuat jenjang berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling
abstrak.
Ketiga, Edgar Dale, membuat jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai
dari siswa yang berpartisipasi dalam pengalaman nyata, kemudian menuju siswa
sebagai pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap
kejadian yang disajikan dengan media, dan terakhir siswa sebagai pengamat
kejadian yang disajikan dengan ystem.
Salah satu gambaran yang paling
banyak digunakan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam
pembelajaran adalah kerucut pengalaman Dale (Dale’s Cone of Experience).
Dalam proses pembelajaran, media
memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran
media tidak saja membantu pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi
memberikan nilai tambah pada kegiatan pembelajaran. Kerucut pengalaman Dale
diatas mengklasifikasikan media berdasarkan pengalaman belajar yang akan
diperoleh oleh peserta didik, mulai dari pengalaman belajar langsung,
pengalaman belajar yang dapat dicapai melalui gambar, dan pengalaman belajar
yang bersifat abstrak. Materi yang ingin disampaikan dan diinginkan peserta
didik dapat menguasainya disebut sebagai pesan. Guru sebagai sumber pesan
menuangkan pesan-pesan dalam ystem-simbol tertentu (encoding) dan
peserta didik sebagai penerima menafsirkan ystem-simbol tersebut sehingga
dipahami sebagai pesan (decoding).
3. Landasan Historis
Yang dimaksud dengan landasan
historis media pembelajaran ialah rational penggunaan media pembelajaran
ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran.
Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya
konsepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923. Yang
dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi pengajaran visual ini adalah
setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual
yang nyata kepada pebelajar.
Kemudian kosep pengajaran visual ini
berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education”
yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama
seperti “audio visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual
devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan
oleh guru untuk memindahkan gagasan dan pengalaman pebelajar melalui mata dan telinga.
Pemanfaat-an konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman”
dari Edgar Dale.
Perkembangan besar berikutnya adalah
munculnya gerakan yang disebut “audio visual communication” pada tahun 1950-an.
Perkembangan berikutnya terjadi sekitar tahun 1952 dengan munculnya konsepsi
“instructional materials” yang secara kosepsional tidak banyak berbeda dengan
konsepsi sebelumnya. Beberapa istilah yang merupakan variasi penggunaan
konsepsi “instructional materials” adalah “teaching/ learning materials”,
“learning resources”.
4.
Landasan Teknologis
Teknologi pembelajaran adalah teori
dan praktek perancangan, pengembangan, penerapan, pengelolaan, dan penilaian
proses dan sumber belajar. Jadi, teknologi pembelajaran merupakan proses
kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan
organisasi untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan,
mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam situasi di mana
kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol.
Dalam teknologi pembelajaran,
pemecahan masalah dilakukan dalam bentuk: kesatuan komponen-komponen ystem
pembelajaran yang telah disusun dalam fungsi disain atau seleksi, dan dalam pemanfaatan
serta dikombinasikan sehingga menjadisistem pembelajaran yang lengkap.
Komponen-komponen ini termasuk pesan, orang, bahan, media, peralatan, teknik,
dan latar.
Media pembelajaran sebagai bagian
dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan
masalah pembelajaran, yaitu:
- Meningkatkan produktivitas pendidikan (Can make education more productive).
- Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make education more individual).
- Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran (Can give instruction a more scientific base).
- Lebih memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
- Dengan media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make learning more immediate).
- Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make access to education more equal).
5.
Landasan
Empirik
Temuan-temuan penelitian menunjukkan
bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik
belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan
mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media
yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Pebelajar yang
memiliki gaya visual akan lebih mendapat keuntungan dari penggunaan media
visual, seperti film, video, gambar atau diagram; sedangkan pebelajar yang
memiliki gaya belajar auditif lebih mendapatkan keuntungan dari penggunaan
media pembelajaran auditif, seperti rekaman, radio, atau ceramah guru.
DAFTAR
PUSTAKA
Ibrahim, R dan Nana Syaodih S. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: PT.Asdi Mahasatya
Sadiman, Arif. 2003. Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.