Judul : Percobaan Perbedaan Tekanan Udara (Kelompok1)
Deskripsi : Air yang dapat masuk kedalam gelas pada saat menutupi lilin yang menyala sehingga hilangnya oksigen dalam gelas
selengkapnya bisa dilihat di : https://m.youtube.com/watch?v=UfeaMsQ8Tqo/
Minggu, 26 Februari 2017
Minggu, 19 Februari 2017
PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
Pembelajaran berbasis Web adalah suatu kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan media situs (website) yang bias diakses melalui jaringan internet. Pembelajaran berbasis Web atau yang dikenal juga dengan Web Based Learning, merupakan salah satu jenis penerapan pembelajaran elektronik (E-learning). Atau dapat juga dikatakan sebuah pengalaman belajar dengan memanfaatkan jaringan internet untuk berkomunikasi dan menyampaikan informasi pembelajaran.
Internet merupakan jaringan yang terdiri atas ribuan bahkan jutaan komputer, termasuk di dalamnya jaringan lokal, yang terhubungkan melalui saluran (satelit, telepon, kabel) dan jangkauanya mencakup seluruh dunia. Internet memiliki banyak fasilitas yang dapat digunakan dalam berbagai bidang, termasuk dalam kegiatan pendidikan. Fasilitas tersebut antara lain: e-mail, Telnet, Internet Relay Chat, Newsgroup, Mailing List (Milis), File Transfer Protocol (FTP), atau World Wide Web (WWW) (Oos M. Anwas: 2003).
Konvensi internasional, menyatakan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan berbagai proses dan aplikasi elektronik untuk pembelajaran, termasuk di dalamnya adalah CBT, WBI, CD, dan lain-lain. Sedangkan pembelajaran berbasis web diartikan sebagai pembelajaran melalui internet, intranet, dan halaman web saja. Namun demikian istilah e-learning dan online learning sering disamakan dengan pembelajaran berbasis web (Davidson & Rasmusen, 2006: 10).
Rosenberg menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Secara lebih rinci Rosenberg mengkatagorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning, yaitu: e-learning bersifat jaringan, e-learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet, e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas (Oos M. Anwas: 2003).
Oleh karena dalam web tersedia sumber informasi dan sumber daya pembelajaran yang melimpah, maka kegiatan belajar tidak difokuskan pada satu atau beberapa sumber informasi tertentu saja, tetapi bereksplorasi ke berbagai situs-situs yang berkaitan. Dalam pengajaran konvensional seorang dosen mewajibkan mahasiswa untuk mempelajari (menghafal) buku atau diktat tertentu untuk kemudian dievaluasi penguasaannya pada akhir semester. Dalam model pengajaran berbasis web seorang dosen lebih tepat memberi pengarahan kepada mahasiswa agar mencapai suatu tujuan akhir yang diharapkan dan membiarkan mahasiswa mengorganisir proses pembelajarannya sendiri. Dalam hal ini mirip seperti metode proyek, akan tetapi aplikasinya tidak pada kerja proyek, melainkan pada pengembangan pengetahuandalam bidang ilmu tertentu.
Model pengajaran berbasis web juga menekankan penilaian pada level tugas. Evaluasi tidak sekedar untuk mengetahui tingkat pemahaman suatu materi, tetapi dikembangkan untuk menilai pencapaian penyelesaian tugas. Mahasiswa tidak dievaluasi sampai sejauh mana pengetahuan yang dimilikinya tetapi bagaimana ia memanfaatkan pengetahuannya untuk menyelesaikan suatu permasalahan.
Uraian di atas menunjukan bahwa sebagai dasar dari e-learning adalah pemanfaatan teknologi internet. Jadi e-learning merupakan bentuk pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam format digital melalui teknologi internet. Oleh karena itu e-learning dapat digunakan dalam sistem pendidikan jarak jauh dan juga sistem pendidikan konvensional. Dalam pendidikan konvensional fungsi e-learning bukan untuk mengganti, melainkan memperkuat model pembelajaran konvensional.
Pembelajaran berbasis internet bagi siswa sekolah dasar sudah seharusnya mulai dikenalkan. Untuk itu para guru hendaknya sudah tahu lebih dahulu tentang dunia internet sebelum menerapkan pembelajaran tersebut pada siswa. Persiapan yang tak kalah pentingnya yaitu sarana komputer. Tentu saja dalam hal ini hanya dapat diterapkan di sekolah-sekolah yang mempunyai fasilitas komputer yang memadai. Walaupun sebenarnya dapat juga diusahakan oleh sekolah yang tidak mempunyai fasilitas komputer misalnya dengan mendatangi warnet sebagai mitra dalam pembelajaran tersebut.
Setelah semua perangkat untuk pembelajaran siap, guru mulai melakukan pembelajaran dengan menggunakan sumber belajar internet. Bagi siswa sekolah dasar tentu saja akses-akses yang ringan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diajarkan. Disinilah kepiawaian seorang guru ditampilkan dalam mendampingi, membimbing dan mengolah metode pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang diharapkan tercapai.
Beberapa metode yang dapat dilakukan oleh guru, diantaranya: diskusi, demonstrasi, problem solving, inkuiri, dan discoveri. Guru memberikan topik tertentu pada siswa, kemudian siswa mencari hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut dengan mencari (download) dari internet. Guru juga dapat memberikan tugas-tugas ringan yang mengharuskan siswa mengakses dari internet, suatu misalnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa dapat mencari karya puisi atau cerpen dari internet. Siswa juga dapat belajar dari internet tentang hal-hal yang up to date yang berkaitan dengan pengetahuan. Guru memberi tugas pada siswa untuk mencari suatu peristiwa muthakir dari internet kemudian mendiskusikannya di kelas, lalu siswa menyusun laporan dari hasil diskusi tersebut.
Metode-metode tersebut dapat dilakukan guru dengan model-model pembelajaran yang bervariasi sehingga siswa semakin senang, tertarik untuk mempelajarinya sehingga proses pembelajaran tersebut menjadi pembelajaran yang bermakna. Dengan pembelajaran berbasis internet diharapkan siswa akan terbiasa berpikir kritis dan mendorong siswa untuk menjadi pembelajar otodidak. Siswa juga akan terbiasa mencari berbagai informasi dari berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran ini juga mendidik siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam kelompok kecil maupun tim. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu dengan pembelajaran berbasis internet pengetahuan dan wawasan siswa berkembang, mampu meningkatkan hasil belajar siswa, dengan demikian mutu pendidikan juga akan meningkat.
Anwas, Oos M, 2003. Faktor yang Mempengaruhi Sikap terhadap Internet; Studi Survei Kesiapan Dosen dalam Mengadopsi Inovasi e-learning. Jakarta: Program Pascasarjana FISIP Universitas Indonesia.
Davidson, G.V,. & Rasmussen, K.L. 2006. Web based learning: designing, implementation, and evaluation. Upper Saddle River, NJ: Pearson Education, Inc.
DAFTAR PUSTAKA
Anwas, Oos M, 2003. Faktor yang Mempengaruhi Sikap terhadap Internet; Studi Survei Kesiapan Dosen dalam Mengadopsi Inovasi e-learning. Jakarta: Program Pascasarjana FISIP Universitas Indonesia.
Minggu, 12 Februari 2017
TUGAS TERSTRUTUR 1
TUGAS TERSTRUTUR 1
1.
Menurut cognitive theory of multimedia
learning bahwa ada tiga asumsi utama yang dijadikan acuan dalam merancang suatu
multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga asumsi tersebut dengan memberikan
contoh masing-masing media yang relevan untuk pembelajaran kimia.
Jawab:
Tiga asumsi yang
mendasari teori kogitif tentang multimedia learning, yakni: dual-channel
(saluran ganda), limited-capacity (kapasitas terbatas), dan active-processing
(pemrosesan-aktif). Asumsi-asumsi dirangkum dalam figur 1.1
|
Asumsi
|
Deskripsi
|
Kutipan terkait
|
|
Saluran-ganda
|
Menusia memiliki
saluran terpisah untuk memproses informasi visual dan informasi auditori
|
Paivio, 1968;
Baddeley, 1992
|
|
Kapasitas-terbatas
|
Manusia punya
keterbatasan dalam jumlah informasi yang bisa mereka proses dalam
masing-masing saluran pada waktu yang sama
|
Baddeley,
1992;Chandler & Sweller, 1991
|
|
Pemrosesan-aktif
|
Manusia melakukan
pembelajaran aktif dengan memilih informasi masuk yang relevan,
mengorganisasikan informasi-informasi itu ke dalam representasi mental yang
koheren, dan memadukan representasi mental itu dengan pengetahuan lain
|
Mayer, 1999;
Wittrock, 1989
|
Asumsi
Saluran-ganda
Asumsi saluran-ganda (dual-channel assumption)
beranggapan bahwa manusia memiliki saluran terpisah bagi pemrosesan informasi
untuk materi visual dan materi auditori. Asumsi saluran-ganda ini dirangkum
dalam Figur 1.3 oleh karena dua saluran, figur ini juga dibagi dua. Figur
1.3 A menunjukan saluran verbal auditori. Figur 1.3 B menunjukan saluran visual
pictorial. Manusia memahami suatu informasi yang didapat melalui citra auditori
dan citra pictorial. Pemahaman yang diproses melalui kedua saluran tersebut dan
mempresentasikan serta menyimpannya dalam memori jangka panjang.
Asumsi
Kapasitas-terbatas
Manusia bukan mesin atan super komputer, semua
inforamasi yang diperoleh akan diolah, dipadukan, dan diintegrasikan dengan
kapasitas otak. Semua informasi yang masuk tidak bisa diolah dan disimpan
secara langsung ke otak. Beberapa dari informasi akan diolah menjadi sesuatu
yang padu dan dapat dipahami.
Asumsi
Pemrosesan aktif
Manusia secara aktif melibatkan dirinya dalam
pemrosesan aktif untuk mengkonsstruksi representasi mental yang saling terkait
terhadap pengalaman mereka. Proses kogitif aktif ini meliputi: memberikan
perhatian, menata informasi yang masuk dengan pengetahuan lainnya. Pendeknya,
manusia adalah prosesor aktif yang menalar dan memasukakalkan setiap informasi
yang ada. Manusia bukan prosesor pasif yang hanya menerima merekam sesuatu dan
menyimapnnya di memori dan dapat diputar olah kapan saja.
Oleh karena karya
sentral multimedia learning berlangsung dalam memori kerja atau working
memory, jadi mari kita fokus disana. Memori kerja digunakan untuk
penyimpanan sementara dan memanipulasi pengetahuan dalam kesadaran pikiran
aktif.
Adapun contoh media yang dapat digunakan
dalam pembelajaran kimia berdasarkan Kompetensi Dasar (KD) yang ada dalam
kurikulum SMA, seperti media peraga gerakan mikroskopis
Sesuai fungsinya,
peraga gerakan mikroskopis dipakai saat guru ingin memperjelas konsep yang
bersifat abstrak dan sulit dibuktikan melalui percobaan. Karena itu, metode
pengajaran yang paling sesuai adalah ceramah, diskusi, atau tanya jawab.
Misalnya, penerapan media kertas magnet untuk menjelaskan konsep penurunan
tekanan uap larutan.
Untuk mulai membuat
media kertas magnet, perlu dipersiapkan sejumlah alat dan bahan:
Magnet batang dengan ukuran kecil. Ini akan
sangat baik jika permukaan magnetnya halus dan rata. Ketebalan magnet
diusahakan setipis mungkin, sedang luas permukaannya agak lebar. Magnet ini
bisa diperoleh dengan cara memecah magnet bekas alat pengeras suara.
Lembar karton atau kertas gambar sebagai
bahan penyekat antar megnet. 3. Kayu penyangga media kertas-magnet. Bentuknya
bisa beragam sesuai keinginan.
Potongan-potongan kertas dibentuk sebagai
model dari pengaktualisasian benda yang berkaitan dengan suatu konsep materi
pelajaran.
Langkah-langkah proses
belajar mengajarnya adalah:
Guru mempersiapkan peraga gerakan
mikroskopis dengan kertas gambar dilengkapi beberapa tempelan potongan kertas
berwarna tertentu dan dibentuk bulatan yang tersusun pada suatu arena gambar
gelas.
Guru menempelkan magnet-magnet dilengkapi
potongan kertas sejenis potongan kertas yang telah ditempelkan tadi. Semua
potongan kertas yang ada merupakan model dari molekul-molekul pelarut. Gerakkan
ke atas semua magnet tersebut untuk memvisualisasikan penguapan molekul
pelarut.
Guru menambahkan potongan kertas yang
berbeda warna pada arena gambar gelas. Model ini memberikan maksud adanya
penambahan molekul zat terlarut.
Guru menanyakan simpulan sementara kepada
siswa tentang pengaruh penambahan zat terlarut terhadap penurunan tekanan uap
larutan.
Guru memberikan simpulan yang benar atau
menyetujui simpulan siswa jika memang sudah benar.
Dengan visualisasi
gerakan model molekul zat pelarut menggunakan peraga gerakan mikroskopis
tersebut, menurut Bahtiar (2004), siswa diharapkan tidak terlalu sulit berpikir
abstrak membayangkan peristiwa penguapan. Pokok bahasan yang bisa dilakukan
dengan peraga gerakan mikroskopis adalah pokok bahasan perubahan materi, struktur
atom, hidrokarbon, konsentrasi larutan, kecepatan reaksi, koloid, sifat
koligatif, atau elektrokimia.
2.
Jelaskan bagaimana teori dual coding
dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran kimia!
Jawab:
Teori dual coding yang
dikemukakan Allan Paivio (Paivio, 1971, 2006) menyatakan bahwa informasi yang
diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel
verbal seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image) seperti
diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini dapat berfungsi baik secara
independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan (Sadoski,
Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi tersebut memiliki karakteristik
yang berbeda. Channel verbal memroses informasi secara berurutan sedangkan
channel nonverbal memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.
Aktivitas berpikir
dimulai ketika sistem sensory memory menerima rangsangan dari lingkungan, baik
berupa rangsangan verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan
representatif (representational connection) terbentuk untuk menemukan channel
yang sesuai dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal, representasi
dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal, representasi
dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut dapat
dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari
wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal disebut
logogen sedangkan representasi informasi yang diproses melalui channel
nonverbal disebut imagen (lihat Gambar).
Hasil penelitian yang
dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991,
mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan
belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue,
(?)). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata
(verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah
dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara
saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.
Menurut teori Dual
Coding yang dikemukakan oleh Paivio, kedua channel pemrosesan informasi
tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan
Sweller tahun 2003 dalam (Ma, (?)) telah melakukan sebuah riset untuk melihat
apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu
kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram
lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu
menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang
belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang
belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk
bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang
belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan
dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki
tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan
prestasi yang signifikan.
Sebagai tambahan
kesimpulan dari teori dual coding ini jika dikaitkan dengan bagaimana seseorang
memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini mendukung
pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan
pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior
knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang memiliki
masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang lebih banyak
dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek, sehingga
dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih
lama akan lebih mudah memahami informasi baru yang disampaikan.
Teori Dual Coding juga
menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang
digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal
(Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa
ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka
kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk
bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan
informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA
TEORI PEMROSESAN
INFORMASI BERBANTUAN MEDIA
Menurut Gagne bahwa
dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah
sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan
informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan
kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri
individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang
terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari
lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Teori pemrosesan informasi
adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan,
dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175). Teori ini
menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat
dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi
belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak
melalui beberapa indera.
Informasi yang
dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua
dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah
sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik.
Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah
memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru
mengalokasikan waktu untuk pengulangan selama mengajar.
Memori jangka panjang
merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode
panjang. Tulving (1993) dalam (Slavin, 2000: 181) membagi memori jangka panjang
menjadi tiga bagian, yaitu memori episodik, yaitu bagian memori jangka panjang
yang menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman pribadi kita, memori
semantik, yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta
dan pengetahuan umum, dan memori prosedural adalah memori yang menyimpan
informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Dalam upaya menjelaskan
bagaimana suatu informasi (pesan pengajaran) diterima, disandi, disimpan dan
dimunculkan kembali dari ingatan serta dimanfaatkan jika diperlukan, telah
dikembangkan sejumlah teori dan model pemrosesan informasi oleh para pakar
seperti Biehler dan Snowman (1986); Baine (1986); dan Tennyson (1989).
Teori-teori tersebut umumnya berpijak pada tiga asumsi (Lusiana, 1992) yaitu:
a. Bahwa antara stimulus dan respon
terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi dimana pada masing-masing
tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
b. Stimulus yang diproses melalui
tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk ataupun isinya.
c. Salah satu dari tahapan mempunyai
kapasitas yang terbatas.
Dari ketiga asumsi
tersebut,dikembangkan teori tentang komponen struktur dan pengatur alur
pemrosesan informasi (proses control). Kompenen pemrosesan dipilih menjadi tiga
berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses
terjadinya”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah:
1. Sensory receptor
Sensory Receptor (SR)
merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. informasi masuk
ke sistem melalui
sensory register Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya,
informasi hanya dapat bertahan dalam waktu yang sangat singkat, dan informasi
tadi mudah terganggu dengan kata lain sangat mudah berganti. Agar tetap berada dalam sistem, informasi masuk
ke working memory
yang digabungkan dengan informasi
di long-term memory.
2. Working memory
Pengerjaan atau
operasi informasi berlangsung di working
memory. Disini, berlangsung proses berpikir secara sadar. Working Memory (WM)
diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian (attention) oleh
individu. Pemberian perhatian ini dipengaruhi oleh peran persepsi.
Karakteristik WM adalah bahwa; 1) ia memiliki kapasitas yang terbatas, lebih
kurang 7 slots. Informasi di dalamnya hanya mampu bertahan kurang lebih 15
detik apabila tanpa upaya pengulangan atau rehearsal. 2) informasi dapat
disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Asumsi pertama
berkaitan dengan penataan jumlah informasi, sedangkan asumsi kedua berkaitan
dengan peran proses kontrol. Artinya, agar informasi dapat bertahan dalam WM,
maka upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas WM disamping melakukan
rehearsal. Sedangkan penyandian pada tahapan WM, dalam bentuk verbal, visual,
ataupun semantik, dipengaruhi oleh peran proses kontrol dan seseorang dapat
dengan sadar mengendalikannya.
3. Long term memory
Long Term Memory (LTM)
diasumsikan; 1) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu, 2)
mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali informasi disimpan di
dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.
Kelemahannya adalah
betapa sulit mengakses
informasi yang tersimpan di
dalamnya. Persoalan “lupa” pada tahapan ini disebabkan oleh kesulitan atau
kegagalan memunculkan kembali (retrieval failure) informasi yang diperlukan.
Ini berarti, jika informasi ditata dengan baik maka akan memudahkan proses
penelusuran dan pemunculan kembali informasi jika diperlukan. Dikemukakan oleh
Howard (1983) bahwa informasi disimpan di dalam LTM dalam bentuk prototipe,
yaitu suatu struktur representasi pengetahuan yang telah dimiliki yang
berfungsi sebagai kerangka untuk mengkaitkan pengetahuan baru. Dengan ungkapan
lain, Tennyson (1989) mengemukakan bahwa proses penyimpanan informasi merupakan
proses mengasimilasikan pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki,
yang selanjutnya berfungsi sebagai dasar pengetahuan (knowledge base) (Lusiana,
1992).
Dalam mengartikan
penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan
media pengantar, desain pesan, serta
kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk
menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media
berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk
menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu
pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang
diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial. Sebagai
contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat
dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar
komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau
kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam
bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya
istilah desan pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi
dari sebuah pola tanda yang memungkinkan
untuk mengkondisi pemerolehan informasi.
Penelitian telah menemukan bukti bahwa
desain pesan yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas
performansi.
Beberapa teori yang
melandasi perancangan desain pesan
multimedia instruksional ialah teori
pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda.
Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang
terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas
memori kerja visual dan memori kerja
auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki
kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa
penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi
yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam
representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan. Temuan-temuan
penelitian telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding theory):
terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu
pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi
verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki
kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk. Hal terpenting
yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa
kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi
pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.
DAFTAR PUSTAKA
Slavin, R.E. 2000.
Educational Psychology, Theory and Practice. United State of America: Allyn
& Bacon
Lusiana. 1992. Pengaruh
Interaktif antara Penggunaan Strategi Penataan Isi Mata Kuliah dan Gaya Kognitif Mahasiswa terhadap Perolehan
Belajar. Malang: PPS IKIPMalang
Minggu, 05 Februari 2017
PRINSIP DASAR MULTIMEDIA PEMBELAJARAN
PRINSIP DASAR MULTIMEDIA PEMBELAJARAN
Rosch menyatakan bahwa multimedia adalah kombinasi dari komputer dan video. Sementara Mc. Cormick mendefinisikan multimedia sebagai kombinasi dari tiga elemen, yaitu suara, gambar, dan teks. Robin & Linda mengartikan multimedia sebagai alat yang dapat menciptkakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan teks, grafik, animasi, auido, dan gambar video (Suyanto, 2003: 5).Ade Cahyana dan Devi Munandar (2008) memberikan definisi teknologi multimedia sebagai perpaduan dari teknologi komputer baik perangkat keras maupun perangkat lunak dengan teknologi elektronik. Menurut keduanya sekarang ini perkembangan serta pemanfaatan teknologi multimedia banyak digunakan hampir di seluruh aspek kegiatan.
Dalam buku yang berjudul ”The Developers Handbook to Interaktive Multimedia”, Rob Philip (1997: 8) menjelaskan :
”The term ‘multimedia’ is a catch-all phrase to describe the new wave of computer software that primarily deals with the provisions of information. The ’multimedia’ component is characterized by the presence of text, picture, sound, animation and video; some or all wich are organized into some coherence program. The ‘interactive’ component refers to the process of empowering the user to control the environment usually by a computer.”
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa multimedia merupakan perpaduan dari beberapa elemen informasi yang dapat berupa teks, gambar, suara, animasi, dan video. Program multimedia biasanya bersifat interaktif.
Prinsip-Prinsip Multimedia untuk Pembelajaran
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Richard E. Mayer (2001) menunjukan bahwa anak didik kita memiliki potensi belajar yang berbeda-beda. Kini dunia pendidikan makin maju, dapatkah modalitas belajar siswa yang berbeda-beda ini dibawa dalam sebuah teknologi Multimedia? Menurut Mayer ada 12 prinsip desain multimedia pembelajaran yang dapat diterapkan di Pembelajaran.
12 Prinsip Merancang Multimedia Pembelajaran, yaitu :
1) Prinsip Multimedia
Prinsip multimedia berbunyi murid bisa belajar lebih baik dari kata-kata dan gambar-gambar daripada dari kata-kata saja (Mayer, 2009:93). Yang dimaksudkan dengan kata-kata adalah teks tercetak di layar yang dibaca pengguna atau teks ternarasikan yang didengar pengguna melalui speaker atau headset. Yang dimaksudkan dengan gambar adalah ilustrasi statis seperti gambar, diagram, grafik, peta, foto, atau gambar dinamis seperti animasi dan video. Clark & Mayer (2011:70) menggunakan istilah penyajian multimedia untuk menyebut segala penyajian yang berisi kata-kata dan gambar.Mayer (2009:93) beralasan bahwa saat kata-kata dan gambar-gambar disajikan secara bersamaan, siswa punya kesempatan untuk mengkonstruksi model-model mental verbal dan piktorial dan membangun hubungan di antara keduanya. Sedangkan jika hanya kata-kata yang disajikan, maka siswa hanya mempunyai kesempatan kecil untuk membangun model mental piktorial dan kecil pulalah kemungkinannya untuk membangun hubungan di antara model mental verbal dan piktorial.
Jadi, Prinsip Multimedia: Murid bisa belajar lebih baik dari kata-kata dan gambar-gambar daripada dari kta-kata saja.
2) Prinsip Kesinambungan Spasial
Orang belajar lebih baik ketika kata dan gambar terkait disandingkan berdekatan dibandingkan apabila disandingkan berjauhan atau terpisah. Oleh karena itu, ketika ada gambar (or sodarenye nyang laen seperti video, animasi, dll) yang dilengkapi dengan teks, maka teks tersebut harus merupakan jadi satu kesatuan dari gambar tersebut, jangan menjadi sesuatu yang terpisah.
3) Prinsip Kesinambungan Waktu
Orang belajar lebih baik ketika kata dan gambar terkait disajikan secara simultan dibandingkan apabila disajikan bergantian atau setelahnya. Nah, ketika Anda ingin memunculkan suatu gambar dan atau animasi atau yang lain beserta teks, misalnya, sebaiknya munculkan secara bersamaan alias simultan. Jangan satu-satu, sebab akan memberikan kesan terpisah atau tidak terkait satu sama lain. Begitu kata Mayer.
4) Prinsip Koherensi
Prinsip koherensi menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik jika hal-hal ekstra disisihkan dari sajian multimedia (Mayer, 2009:167). Prinsip koherensi terbagi atas tiga versi, yaitu pembelajaran siswa terganggu jika gambar-gambar menarik namun tidak relevan ditambahkan (Mayer, 2009:170; Clark & Mayer, 2011:159), pembelajaran siswa terganggu jika suara dan musik menarik namun tidak relevan ditambahkan (Mayer, 2009:181; Clark & Mayer, 2011:153), dan pembelajaran siswa akan meningkat jika kata-kata yang tidak dibutuhkan disisihkan dari presentasi multimedia (Mayer 2009:188; Clark & Mayer, 2011:166).
Mayer (2009:167) mengemukakan alasan teoretis bahwa materi ekstra selalu bersaing memperebutkan sumber-sumber kognitif dalam memori kerja sehingga bisa mengalihkan perhatian siswa dari materi yang penting. Hal-hal ekstra juga bisa menganggu proses penataan materi dan bisa menggiring siswa untuk menata materi di atas landasan tema yang tidak sesuai.
5) Prinsip Modalitas Belajar
Orang belajar lebih baik dari animasi dan narasi termasuk video), daripada dari animasi plus teks pada layar. Jadi, lebih baik animasi atau video plus narasi daripada sudah ada narasi ditambah pula dengan teks yang panjang. Hal ini, sangat mengganggu.
6) Prinsip Redudansi
Orang belajar lebih baik dari animasi dan narasi termasuk video), daripada dari animasi, narasi plus teks pada layar (redundan).
Sama dengan prinsip di atas. Jangan redudansi, kalau sudah diwakili oleh narasi dan gambar/animasi, janganlah tumpang tindih pula dengan teks yang panjang.
7) Prinsip Personalisasi
Orang belajar lebih baik dari teks atau kata-kata yang bersifat komunikatif (conversational) daripada kalimat yang lebih bersifat formal. Lebih baik menggunakan kata-kata lugas dan enak daripada bahasa teoritis, oleh karena itu, sebaiknya gunakan bahasa yang komunikatif dan sedikit ber-style.
8) Prinsip Interaktivitas
Orang belajar lebih baik ketika ia dapat mengendalikan sendiri apa yang sedang dipelajarinya (manipulatif: simulasi, game, branching). Sebenarnya, orang belajar itu tidak selalu linier alias urut satu persatu. Dalam kenyataannya lebih banyak loncat dari satu hal ke hal lain. Oleh karena itu, multimedia pembelajaran harus memungkinkan user/pengguna dapat mengendalikan penggunaan daripada media itu sendiri. dengan kata lain, lebih manipulatif (dalam arti dapat dikendalikan sendiri oleh user) akan lebih baik. Simulasi, branching, game, navigasi yang konsisten dan jelas, bahasa yang komunikatif, dan lain-lain akan memungkinkan tingkat interaktivitas makin tinggi.
9) Prinsip Sinyal (cue, highlight, ..)
Orang belajar lebih baik ketika kata-kata, diikuti dengan cue, highlight, penekanan yang relevan terhadap apa yang disajikan. Kita bisa memanfaatkan warna, animasi dan lain-lain untuk menunjukkan penekanan, highlight atau pusat perhatian (focus of interest). Karena itu kombinasi penggunaan media yang relevan sangat penting sebagai isyarat atau kata keterangan yag memperkenalkan sesuatu.
10) Prinsip Perbedaan Individu
9 prinsip tersebut berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas visual tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks dan narasi plus visual berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas auditori tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks, visual dan simulasi berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas kinestetik tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya.
11) Prinsip Praktek
Interaksi adalah hal terbaik untuk belajar,kerja praktek dalam memecahkan masalah dapat meningkatkan cara belajar dan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang sedang dipelajari.
12) Pengandaian
Menjelaskan materi dengan audio meningkatkan belajar. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi, daripada dari animasi dan teks pada layar.
Kesimpulannya penggunaan multimedia (kombinasi antara teks, gambar, grafik, audio/narasi, animasi, simulasi, video) secara efektif untuk mengakomodir perbedaan modalitas belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Mayer, Richard. 2011. The Cambridge Handbook of Multimedia Learning. Cambridge University Press.
M,Suyanto.2005. Multimedia Alat Untuk Meningkatkan Keunggulan Bersaing.Yogyakarta : Andi
Langganan:
Komentar (Atom)
